Bio Toilet Hemat Air Produksi Pupuk
- Pertama di Indonesia, Lama di Jepang
- Per Unit Harganya Rp 25 Juta
LEMBAGA Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan teknologi Bio Toilet pertama di Indonesia. Tujuan riset ini untuk menjawab kebutuhan toilet hemat air bersih dan efektif di kawasan pemukiman padat penduduk.
“Bio toilet ini dikembangkan akhir 2007, khusus dirancang tidak menimbulkan pencemaran sungai atau lingkungan,” tutur Peneliti Bidang Energi LIPI, Muhammad Effendi di Bandung, Senin, 10 Maret 2008.
Bio toilet didesain khusus tidak menimbulkan pencemaran, karena kotorannya ditampung ke dalam dry box terbuat dari baja dan lapisan stainless steel yang cukup tebal. Dry box itu diisi serbuk gerjagi yang berfungsi menyerap cairan dan bau yang dihasilkan dari kotoran.
“Hasil pembuangan itu masuk langsung ke dalam kotak penampungan setelah lebih dulu diaduk dengan serbuk gergaji menggunakan mixer bermotor penggerak hemat energi,” jelas Effendi.
Berbeda dengan toilet konvensional yang tempat wastafel-nya rata tanah dan pakai septic tank, bio toilet dibuat lebih tinggi sekitar satu meter sehingga penggunanya harus menaiki beberapa anak tangga.
Pada bagian wastafel-nya tidak ada air sama sekali, kotoran langsung masuk ke dry box dan tidak menimbulkan bau karena diurai serbuk gergaji. “Daya tampung dry box mencapai 500 liter dan bisa dipergunakan 50 orang per hari, penggunaan airnya tak pakai spray,” kata Effendi.
Sebuah dry box bisa dipergunakan hingga empat bulan. Sedangkan kotoran di dalamnya dikeringkan dan bisa digunakan pupuk.
Biaya pembuatan satu unit bio toilet itu menghabiskan dana Rp 25 juta. Produk pertama dry box dipasang di kawasan pemukiman Kelurahan Sukapura Kecamatan Kiaracondong Kota Bandung.
“Bio toilet itu merupakan yang pertama di Indonesia, sedangkan negara pertama yang mengembangkan teknologi ini Jepang,” tutur Effendi. (ant/*)
